CATATAN PERTUNJUKAN


Lagi-lagi Semarang, Tambak Rejo, Tanjung Mas, Semarang Utara terlihat dan terdengar semarak dalam gelap. Kali ini Hatedu Semarang bertajuk “Meruah Ruang Tenggelam” berhasil digelar dengan sangat memesona. Kerinduan bertatap muka dan berkumpul saling berbincang tentang segala hal kini terobati. Sajian pertunjukan yang dikemas dengan sedemikian sederhana mampu meruah ruang masa lalu sebagai pengingat bahwa di suatu kota di samping bangunan mewah yang mencakar dasar, masih ada ruang yang hampir tenggelam. Sepetinya acara yang telah digelar benar-benar meruah ruang tenggelam.

Membicarakan ruang ialah sesuatu yang sangat luas. Seperti halnya semesta yang menjadi ruang bagi segala kehidupan. Tumbuhan dan hewan dihadirkan pencipta sebagai keindahan sekaligus penggerak rantai makanan untuk menempati ekosistem masing-masing. Manusia dengan akal dan segalanya diciptakan sebagai pengontrol serta mejadi penjaga dari rantai makanan dan ekosistem tersebut. Dengan meruahnya manusia, saling berbenturannya keinginan masing-masing, membuat pertunjukannya masing-masing, merubah wajah dan bercitra seenaknnya, menjadi sulit untuk membedakan mana manusia dengan tubuh manusia, mana manusia dengan kepala manusia. Begitulah sekiranya. Manusia memang seharusnya menjadikan dirinya benar-benar manusia. Berkepala manusia bertubuh manusia.

Catatan ini hadir sebagai proses menjadikan diri benar-benar manusia. Berkepala manusia dengan akal yang digunakan untuk berfikir bagaimana memanfaatkan sekaligus menjaga ruang yang telah diberikan. Bertubuh manusia yang di dalamnya berbagai macam organ bertempat yang membantu meletakkan tubuh di ruang yang tepat. Dalam salah satu pertunjukan yang di gelar dalam acara tersebut dapat ditangkap sebuah tanda yang pas untuk diambil sebagai garis merah meriahnya acara tersebut. Pun pertunjukan itu satu diantara pertunjukan lain yang sangat berkaitan dengan tajuk yang telah disusun. Sudah selayaknya manusia yang kembali menghidupkan ruang yang hampir tenggelam.

Pertunjukan itu disajikan oleh Teater Atmosfer Kendal yang berkolaborasi dengan Teater Gema UPGRIS membawakan naskah puisi garapan Setia Naka Andrian dan disutradari oleh Noey Sindu Praba. Naskah puisi yang disajikan itu berjudul “MENEROKA TUBUH”. Sebelum dijadikan sebuah pertunjukan, puisi ini sempat secara langsung dibacakan oleh Setia Naka Andrian dalam youtubenya. Tentu sangat berbeda jika menyaksikan puisi itu dalam sebuah proses pertunjukan. Terasa semakin lengkap dengan dihadirkannya propeti serta dikerjakan oleh tubuh-tubuh yang telah melalui proses latian sebelumnya. Akal dalam kepala bekerja keras untuk menangkap berbagai macam simbol  dalam pertunjukan tersebut. Begitupun tubuh, bergerak kesana-kemari, berpindah tempat karena ruang semakin hari semakin sempit berkat gedung-gedung yang dibangun dalam kenyataan. 

Komentar

Postingan Populer